HUKUM PERHIASAN DAN PAKAIAN (EMAS DAN SUTERA) BAGI LAKI-LAKI

Posted by


      
 PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang Masalah
Emas merupakan barang yang sangat berharga, biasanya orang menggunakan emas sebagai alat investasi. karena dengan menyimpan emas kita memiliki beberapa keuntungan dalam melindungi aset kita. Selain itu, emas juga digunakan sebagai perhiasan, karena warnanya yang mengkilap dan bagus sehingga bagus bila digunakan sebagai perhiasan. Begitu juga Kain sutera yang halus dan dengan beragam motif yang cantik, tentunya sangat menarik untuk dipakai semua orang, khususnya wanita. Kain sutera biasanya dibuat selendang, kain, serta kebaya ataupun pakaian.
Ternyata dibalik itu semua, ada hukum atau aturan dalam Islam yang tidak membolehkan kaum pria memakai  emas dan sutera, baik kain untuk sholat maupun pakaian berbahan sutera. Larangan ini terdapat didalam hadits-hadits shahih. Banyak sekali hadits Nabi, maupun kitab-kitab yang menjelaskan tentang masalah diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki. Islam melarang laki-laki memakai perhiasan dan sutera karena itu bisa menjadi berlebih-lebihan baginya. Namun saat ini seiring berkembangnya zaman  banyak pria yang memakai cincin emas atau kain sutera. sekarang ini mode fashion tidak hanya untuk kaum wanita, tak sedikit pula kaum pria yang sangat memperhatikan style pakaiannya. Bahkan saat pernikahan, sering mempelai pria dan wanita sama-sama memakai cincin kawin yang terbuat dari emas. Padahal haram bagi lelaki untuk memakai cincin emas.

b.      Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang masalah diatas, maka pada makalah ini penulis akan membahas beberapa masalah terkait yang berhubungan dengan emas dan sutera, diantarannya yaitu :
1.      Bagaimanakah asal mula emas dan sutera itu?
2.      Mengapa islam sampai melarang emas dan sutera bagi laki-laki? Apakah penyebabnya?
3.      Apa sajakah Hikmah diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki?

II.      PEMBAHASAN
1.      Asal mula emas dan sutera
Emas berdasarkan sumber wikipedia merupakan sebuah logam transisi dari unsur periodik simbol “Au” dengan nomor atom 79. Emas merupakan logam yang lembek, mengkilat, kuning dan berat. Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius. Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%. Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser.[1]
Emas merupakan logam yang mempunyai nilai yang sangat tinggi di semua kebudayaan di dunia, bahkan dalam bentuk mentahnya sekalipun. Di Indonesia terdapat salah satu tambang emas terbesar di dunia, yaitu yang berada di Tembaga Pura, Papua yang dikelola oleh PT. Freeport Indonesia.[2]
Amalgamasi adalah proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa dan membentuk amalgam (Au – Hg). Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan murah, akan tetapi proses efektif untuk bijih emas yang berkadar tinggi dan mempunyai ukuran butir kasar (>74 mikron) dan dalam membentuk emas murni yang bebas (free native gold). Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut.
Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut:
4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Au(CN)2- + 4OH-
4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Ag(CN)2- + 4OH-
Pada tahap kedua yakni pemisahan logam emas dari larutannya dilakukan dengan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (Zinc precipitation). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2 Zn + 2 NaAu(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Au + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2
2 Zn + 2 NaAg(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Ag + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2
Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yang mengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutan akan mengendapkan logam emas dan perak. Prinsip pengendapan ini mendasarkan deret Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektro kimia dari logam-logam dalam larutan cyanide, yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, Pt. Setiap logam yang berada disebelah kiri dari ikatan kompleks sianidanya dapat mengendapkan logam yang digantikannya. Proses pengambilan emas-perak dari larutan kaya dengan menggunakan serbuk Zn ini disebut “Proses Merill Crowe”. Emas sendiri dibagi menjadi dua macam yaitu Emas perhiasan, Emas batangan[3]

Sutera adalah benang halus dan lembut yang berasal dari kepompong ulat sutera. Sutera merupakan bahan yang ditenun dan dijadikan tekstil. Sutera yang paling umum adalah sutera yang berasal dari kepompong yang dihasilkan oleh larva ulat sutera murbei “Bombix Mory” yang diternak dengan sebutan serikultur. Sutera bertekstur halus dan lembut namun tidak licin. Rupa berkilauan yang menjadi daya tarik sutera adalah struktur yang berbentuk prisma segitiga dalam sutera tersebut yang dapat membiaskan cahaya dari berbagai sudut.
"Sutra liar" dihasilkan oleh ulat selain ulat sutra murbei dan dapat pula diolah. Berbagai sutra liar dikenali dan digunakan di Cina, Asia Selatan, dan Eropa sejak dahulu, namun skala produksinya selalu jauh lebih kecil daripada sutra ternakan. Sutra liar berbeda dari sutra ternakan dari segi warna dan tekstur, serta kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutra yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Ulat sutra ternakan dibunuh dengan dicelup ke dalam air mendidih sebelum keluarnya ngengat dewasa, atau ditusuk dengan jarum, sehingga seluruh kepompong dapat diurai menjadi sehelai benang yang tak terputus. Ini membuat sutra bisa ditenun menjadi kain yang lebih kuat. Sutra liar biasanya juga lebih sukar dicelup warna daripada sutra ternakan.
Sutra juga dihasilkan oleh beberapa jenis serangga lain, namun hanya jenis sutra dari ulat sutra yang digunakan untuk pembuatan tekstil. Pernah juga dijalankan kajian terhadap sutra-sutra lain yang menampakkan perbedaan dari aspek molekul. Sutra dihasilkan terutama oleh larva serangga yang bermetamorfosis lengkap, tetapi juga dihasilkan oleh beberapa serangga dewasa seperti Embioptera. Produksi sutra juga kerap dijumpai khususnya pada serangga ordo hymenoptera (lebah, tabuhan, dan semut), dan kadang kala digunakan untuk membuat sarang. Jenis-jenis arthropoda yang lain juga menghasilkan sutra, terutama arachnida seperti laba-laba.[4]
2.      Sebab diharamkannya Emas dan Sutera dalam Islam
Nabi Muhammad SAW telah menegaskan tentang haramnya memakai emas dan sutera bagi kaum laki-laki, tidak bagi kaum wanita. Alasannya karena emas termasuk perhiasan yang memiliki nilai tinggi dalam mempercantik dan menghiasi seseorang, sehingga bisa menjadikan sesuatu yang berlebih-lebihan baginya. [5]
Mengenai hal tersebut Allah berfirman :
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya :“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. ” [Al Israa' 26-27]

Dari Ayat diatas bisa kita pahami bahwa Allah tidak suka orang-orang yang berlebihan atau pemborosan hartanya (dalam hal ini laki-laki yang memakai emas dan sutera). Selain ayat al-Qur’an juga banyak hadits-hadits nabi yang menjelaskan larangan emas dan sutera, diantaranya yaitu :
Suatu ketika Nabi saw mengambil sutera dan dipegangnya dengan tangan kanan. Lalu beliau mengambil emas dan memegangnya dengan tangan kiri. Kemudian beliau bersabda, “Dua macam perhiasan ini haram bagi kalangan laki-laki umatku.” (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibn Hibban, dan Ibn Majah).
Dari Abu Musa Al Asy’ary ra bahwasannya Nabi Muhammad SAW bersabda: Memakai kain sutera dan emas itu haram bagi umatku yang laki-laki; dan halal bagi umatku yang perempuan.” (HR. At Turmudzi)
Dari Anas ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia maka ia tidak akan memakainya nanti di akhirat.” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Umar bin Khattab ra berkata: “Saya mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera adalah orang yang tidak akan mendapat kebahagian nanti (di akhirat).” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Hudzaifah ra berkata: “Nabi Muhammad saw telah melarang kami untuk minum dan makan dengan bejana emas dan perak, serta melarang pula untuk memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal dan melarang pula untuk duduk di atasnya.” (HR. Bukhari)
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka.[6]
Dari beberapa hadits diatas bisa kita pahami bahwa sebab diharamkannya laki-laki untuk memakai emas dan sutera, baik sutera tipis maupun tebal adalah karena mengandung unsur berlebih-lebihan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Allah dan Rasulnya tidak suka hal tersebut.
Sebagaimana diharamkannya emas dan sutera terhadap laki-laki, maka begitu juga diharamkan untuk laki-laki menggunakan bejana emas dan perak sebagai tempat makan dan minum dan juga sebagai alas duduk.[7]
Tentang logam-logam yang lain seperti besi, perak dan sebagainya tidak ada satupun nas yang mengharamkannya, bahkan yang ada adalah sebaliknya, yaitu Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh kepada seorang laki-laki yang hendak kawin dengan sabdanya: "Berilah (si perempuan itu) mas kawin, walaupun dengan satu cincin dari besi." (Riwayat Bukhari)
Tersebut dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah sendiri memakai cicin perak, yang kemudian cincin itu pindah ke tangan Abubakar, kemudian pindah ke tangan Umar dan terakhir pindah ke tangan Usman sehingga akhirnya jatuh ke sumur Aris (di Quba').
Dari hadis inilah, maka Imam Bukhari beristidlal untuk menetapkan halalnya memakai cincin besi dan perak.
3.      Hikmah diharamkannya laki-laki memakai emas dan sutera
Di haramkannya dua perkara tersebut terhadap laki-laki, Islam bermaksud kepada suatu tujuan pendidikan moral yang tinggi. Sebab Islam sebagai agama perjuangan dan kekuatan, selalu melindungi sifat keperwiraan laki-laki dari segala macam bentuk kelemahan dan kemerosotan. Seorang laki-laki yang oleh Allah telah diberi keistimewaan susunan anggotanya yang tidak seperti susunan keanggotaan wanita, tidak layak kalau dia meniru wanita yang melebihkan pakaiannya sampai ke tanah dan suka bermegah-megah dengan perhiasan dan pakaian.
Selain itu juga ada suatu tujuan sosial. Yakni, bahawa diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki adalah salah satu bagian dari program Islam dalam rangka memberantas hidup bermewah-mewahan. Hidup bermewah-mewahan dalam pandangan al-Quran adalah sama dengan suatu kemerosotan yang akan menghancurkan suatu umat. Hidup bermewah-mewahan adalah merupakan manifestasi kejahatan sosial.
Untuk menerapkan jiwa al-Quran ini, maka Nabi Muhammad s.a.w. telah mengharamkan seluruh bentuk kemewahan dengan segala macam manifestasinya dalam kehidupan seorang muslim.
Dan di balik itu semua, dapat pula ditinjau dari segi ekonomi, bahawa emas adalah standard wang internasional. Oleh kerana itu tidak patut kalau bejana atau perhiasan buat orang laki-laki.

III.        PENUTUP
Islam melarang keras kaum laki-laki untuk memakai emas dan sutera, baik itu sedikit maupun banyak sama saja haramnya. Larangan tersebut terdapat didalam hadits-hadits shahih
Hal tersebut ditetapkan karena pada dasarnya mengandung unsur berlebih-lebihan dan berbangga diri baginya. Baik digunakan untuk perhiasan maupun wadah bejana dan alas duduk semuanya dilarang dalam Islam. Kecuali dalam keadaan terpaksa hal tersebut diperboplehkan seperti panas, dingin dan juga untuk kesehatan.
Mengenai logam selain emas seperti perak dan besi tidak ada larangan memakainnya, bahkan Rasulullah sendiri pernah memakai cincin perak dan pernah memerintahkan seorang laki-laki yang hendak nikah untuk memberikan cincin dari besi.
Demikianlah makalah yang bisa penulis jelaskan. Dalam penyusunan makalah ini pasti masih banyak sekali kesalahan dan kekeliruan, maka dari itu penulis mengharap sekali saan dan kritik dari pembaca semuanya. Semoga dengan adanya makalah ini bisa memberikan manfaat bagi semuanya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthofa Bisri, Fiqih keseharian Gus Mus, Khalista, Surabaya, 2008
http://goenawanb.com/investasi/pengertian-emas/
http://www.kamusbesar.com/38736/sutra
Imron Abu amar, Fathul Qorib jilid 1, Menara Kudus, 1982
Shahih Muslim
Syaikh Ibn Utsaimin, As’ilah Fi Bai’ Wa Syira’ Adz-Dzahab
Yusuf Qardhawi, 2007, Halal dan Haram dalam Islam,Solo:Intermedia
http://deva666.wordpress.com/2011/06/25/pengertian-emas/


[1] http://deva666.wordpress.com/2011/06/25/pengertian-emas/
[2] http://goenawanb.com/investasi/pengertian-emas/
[3] http://bagaimanatuh.blogspot.com/2008/06/macam-macam-emas-investasi-emas-bagian.html

[4] http://www.kamusbesar.com/38736/sutra
[5] Syaikh Ibn Utsaimin, As’ilah Fi Bai’ Wa Syira’ Adz-Dzahab, hal. 38
[6] Shahih Muslim No.3898
[7] Imron Abu amar, Fathul Qorib jilid 1, Menara Kudus, 1982, hal 144


Makalah ini Saya susun Guna memenuhi tugas mata kuliah Bahtsul Kutub.



Blog, Updated at: 8:12:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan Komentar Pada artkel ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular Posts