PEMIKIRAN IKHWAN Al-SHAFA

PEMIKIRAN IKHWAN Al-SHAFA


BAB I
PENDAHULUAN

   A.    Latar Belakang Masalah
Gerakan Ikhwan Al-Shafa mengidentifikasi dirinya sebagai gerakan orang-orang yang tertidur di Goa. Sifat gerakannya yang rahasia menyebabkan munculnya banyak misteri dan kontroversi, bahkan terhadap karya besarnya yang dikenal dengan “Rasaa’il Ikhwanus Shafa”. siapa yang menulis risalah tersebut? Hasil notulensi setiap pembahasan atau inisiatif salah satu anggota? Juga apakah madzhab dari gerakan ini? Sunni atau syiah? Jika sunni, apakah mereka mu’tazilah, sufi atau yang lainnya? Atau jika syiah, apakah syiah 12 atau ismailiyah?[1]
Terlepas dari beberapa kontroversi tersebut, satu hal yang disepakati oleh banyak peneliti adalah bahwa Ikhwan Al-Shafa adalah pergerakan untuk menggali dan mengkaji ilmu pengetahuan dan filsafat namun bukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan filsafat. Penggalian dan pengkajiannya disandarkan pada harapan untuk membangun masyarakat spiritual etik di mana elit-elit muslim yang heterogen dapat meredakan ketegangan (perselisihan) yang disebabkanoleh pendekatan nasionalitas dan madzhab-madzhab yang ada. Orientasi untuk melakukan harmonisasi antara filsafat dan agama tidak berarti sebuah upaya untuk menghimpun kebenaran-kebenaran filosofis dengan kebenaran-kebenaran agama. Mereka tidak menunjukkan penilaian yang berat sebelah kepada salah satunya untuk kemudian sampai kepada sintesis yang menghimpun antara unsur-unsur yang sama dan berkesesuaian sebagaimana di lakukan al-farabi dan ibnu sina. Namun upaya mereka tak lebih dari menghindarkan pertentangan (raf’un niza’). Dalam bahasa Adil Awa, mereka senantiasa berada di persimpangan jalan (fi muntashaf at-thariq) antara iman dan akal, agama, dan filsafat.

   B.     Rumusan Masalah
Dari  uraian latar belakang masalah tersebut, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana sejarah Ikhwan Al-Shafa dan Risalahnya?
2)      Bagaimana pemikiran Ikhwan Al-Shafa terhadap pendidikan?
3)      Bagaimana pandangan Ikhwan Al-Shafa tentang agama dan filsafat

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Sejarah Ikhwan Al-Shafa dan Risalahnya
Dalam wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa (اخوانالصفا) berarti persaudaraan kemurnian. Yaitu organisasi yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf arab, yang berpusat di Basrah, Irak yang saat itu merupakan ibukota kekhalifahan Abbasiyah di sekitar abad ke-10 M. Kelompok yang lahir di Basrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal denagn risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok mereka adalah Ikhwan Al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun ada anggota yang dapat diketahui nama-nama mereka yaitu Abu Sulaiman Muhammad Ibnu Masyar al-Basti dikenal dengan nama al-Maqdisy, Abu al-Hasan Ali Ibnu Harun ad-Zanzany, Abu Ahmad al-Mahrajani, Al-Qufy, Zaid Ibnu Rifa’ah.[2]

Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail ini terdiri dari 52 risalah yang masing-masing punya judul, dikelompokksn menjadi empat bagian. Bagian pertama: empat belas risalah meliputi matematika, seni dan logika. Bagian kedua: tujuh belas risalah meliputi ilmu alam yang di dalamnya membicarakan tentang materi, bentuk, ruang, waktu dan gerak. Kemudian membahas tentang langit, bintang-bintang, benda-benda tambang, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan jiwa. Bagian ketiga: sepuluh risalah meliputi pembahasan lanjutan tentang jiwa, arti hidup, mati, lezat dan derita dan macam-macamnya, pembahasan tentang bahasa, sebab-sebab perbedaan bahasa, membahas tentang tumbuh dan berkembang, hari berbangkit dan hari kiamat. Bagian keempat: sebelas risalah meliputi pembahasan tentang ketuhanan dan perkara-perkara yang berkaitan dengan agama-agama, syariat-syariat dan tasawuf.

B.  Pemikiran Ikhwan al-Shafa Tentang Pendidikan
Beberapa contoh pokok pikiran mereka mengenai pendidikan dan pengajaran masih relevan dengan pendidikan modern sekarang. Diantaranya adalah tujuan, kurikulum dan metode pendidikan.
a.       Mengenai tujuan pendidikan mereka melihat bahwa tujuan pendidikan haruslah dikaitkan dengan keagamaan. Tiap ilmu, kata mereka merupakan malapetaka bagi pemiliknya bila ilmu ini tidak ditujukan kepada keridhoan Allah dan kepada keakhiratan. Ikhwan menilai ilmuwan yang paling membahayakan adalah ilmuwan yang saat ditanya tentang hal-hal yang telah menggejala di tengah-tengah masyarakat luas tidak bisa memberi jawaban (solusi) yang baik dan kritis, melainkan justru turut larut ke dalam kesalahan, penyimpangan dan kebodohan mereka dan getol menulis karya-karya “manipulatif” yang menghantam para ulama dan filosof.[3]
b.      Mengenai kurikulum pendidikan tingkat akademis, mereka berpendapat agar dalam kurikulum mencakup logika, filsafat, ilmu jiwa, pengkajian kitab agama samawi, ilmu syariat dan ilmu pasti. Namun yang lebih diberi perhatian adalah ilmu keagamaan yang merupakan tujuan akhir pendidikan.
c.       Metode pengajaran dia mengemukakan prinsip: “mengajar dari hal yang konkrit kepada abstrak”.
d.      Perbedaan bakat individual dan sebab-sebabnya.
Ikhwanus Shafa berpendapat bahwa anak-anak didik, dapat menerima suatu kepandaian bila sesuai dengan pembawaan mereka masing-masing.
e.       Aspek-aspek yang menyebabkan perbedaan budi pekerti (akhlak) dan tabiat manusia. Menurut mereka ada empat aspek. Pertama; aspek campuran cairan yang terdapat dalam tubuh dan perimbangan campuran antara cairan tersebut (empat cairan itu: darah, lendir, empedu kuning, empedu hitam). Kedua: aspek lingkungan alan geografis dan iklim. Ketiga: aspek lingkungan pendidikan/lingkungan sosial. Keempat: aspek ketemtuan hukum astrologi terhadap waktu kelahiran.
f.       Sifat-sifat seorang pengabdi ilmu Ikhwanus Shafa melihat kewajiban seseorang yang belajar ialah, merendahkan diri (tawaddlu) kepada siapa dia belajar, hormat dan ta’dzim kepadanya. Kepada guru dinasehatkan agar lembut kepada murid-murid, sayang kepada mereka, tidak kecewa melihat murid yang lambat memahami pelajaran, tidak rakus dan minta imbalan.
g.      Ulama-ulama di samping banyak kelebihan ilmu, kadang-kadang memiliki juga penyakit dan kelemahan yang perlu dijauhkan. Diantaranya adalah al-Kibru (kesombongan), al-Ujub (kekaguman pada diri). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa bertambah ilmu, tetapi tidak tambah tawadlu kepada Tuhan, tidak tambah kasih pada orang-orang bodoh, tidak tambah cinta kepada ulama, maka dia tidak tambah dekat pada Tuhan, malah tambah jauh”.
h.      Paham mereka mengenai perkembangan jiwa condong kepada teori Tabularasa. Kata mereka “ketahuilah bahwa pikiran jiwa sebelum mendapatkan ilmu atau paham adalah bagaikan selembar kertas putih bersih yang belum tertulis apapun padanya. Bila sudah tertulis sesuatu, benar atau salah maka ruang jiwa itu sudah berisi dan menolak untuk ditulis dengan sesuatu yang lain dan sukar untuk menghilangkan dan menghapusnya. Menurut Ikhwan al-Shafa jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu ada tiga: jalan panca indra, jalan mendengarkan informasi, jalan tulis dan bacaan.
i.        Paham mereka tentang proses belajar. Semua ma’rifah (pengetahuan) merupakan perolehan (muktasabah) bukan bawaan.
j.        Jika semua ma’rifah itu adalah perolehan, bagaimana memperolehnya? Caranya menurut Ikhwanus Shafa ialah: pembiasaan, mencontoh/menirukan dan berguru.
k.      Berguru dalam menuntut ilmu sangat penting dalam pandangan pendidik-pendidik islam. Karena menurut ikhwan al-shafa pengetahuan itu mempunyai syarat-syarat. Syarat-syarat itu dapat diketahui dalam batas kesanggupan seseorang. Untuk itu diperlukan guru atau pendidik bagi pengajarannya, budi pekertinya, tutur bahasanya, ahklaknya dan pengetahuannya. Ikhwan al-shafa mengatakan pentingnya peranan guru dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu mereka menentukan syarat-syarat seorang guru sesuai dengan madzhab mereka, cita-cita politik dan dakwah mereka. “ketahuilah- kata mereka-hai saudara-saudara guru yang cocok bagi saudara adalah guru yang cerdas, baik tabiatnya dan budi pekertinya, jernih batinnya, cinta ilmu, mencari kebenaran, tidak fanatik madzhab manapun”. Syarat ini hanya ada pada jamaah mereka.

C.  Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama
Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sngat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk kedalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang pada  pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapapun.
Ikhwan al-shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu keniscayaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.
Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an lebih bersifat esotoris (secara batin), dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan.[4]

Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat
Bagi golongan Ikhwan al Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu. Mengenai lapangan filsafat, maka dikatakannya ada empat, yaitu matematika, logika, fisika, dan ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan mempunyai bagian-bagian, yaitu:
1.      Mengetahui Tuhan
2.      Ilmu kerohanian
3.      Ilmu kejiwaan
4.      Ilmu politik
5.      Ilmu keakhiratan
Bagi Ikhwan Al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa “hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenangan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Busyairi Madjidi. 1997. Konsep kependidikan para filosof muslim. Yogyakarta: al amin pres
http://ramie’s blog.filsafat islam//
http://www.pergerakan dari dalam goa_pusaka cita.com
 Ridla, Muhammad  jawwad. 2002. Tiga aliran utama teori pendidikan islam. Yogyakarta:tiara wacana.



[1] http://www.pergerakan dari dalam goa_pusaka cita.com
[2] Busyairi Madjidi. 1997. Konsep kependidikan para filosof muslim. Yogyakarta: al amin pres. Hal 66
[3] Ridla, Muhammad  jawwad. 2002. Tiga aliran utama teori pendidikan islam. Yogyakarta:tiara wacana. Hal 151
[4] http://ramie’s blog.filsafat islam//
Posted by Muhammad syafi', Published at 9:09:00 AM and have 0 komentar

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan Komentar Pada artkel ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

Copyright © 2013 SHARING WITH SYAFI' AL-QUDSY | Re-Design Syafi' As-Salafy